Tampilkan postingan dengan label Revolusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Revolusi. Tampilkan semua postingan

25 Oktober 2010

Kerbau dan Ayam (Sebuah Fabel Produksi)

Oleh : Mugi Descart

Kerbau yang selalu menjadi simbol kebodohan terpaksa mengasingkan diri dari kehidupan binatang. Sebabnya tidak diketahui secara pasti. Hal tersebut membuat hati Ayam sedih. Melihat hari-hari kerbau selalu menyendiri. Badannya bertambah kurus. Matanya cekung dan kering. Didekat kolam Kerbau berkubang, tumbuh semak dan rumput. Itupun diacuhkan. Biasanya sembari berkubang, rumput itu dijadikan makanan kecil. Entah kenapa nafsu makan Kerbau hilang begitu saja. Ayam memperhatikannya dibalik lorong semak. Rasa ingin tahu memaksanya untuk menyelidiki misteri Kerbau dipertengahan tahun ini. Perlahan Ia mendekati ke kolam.

“Kerbau...kamu kenapa? Kok murung terus? Ada masalah yang bisa Aku bantu? “

“Gak ada Ayam. Aku gak kenapa-kenapa kok.”

“Ah, jangan bohong. Kamu menutup-nutupi sesuatu jika Aku perhatikan. Lagian kamu kayak linglung gitu. Seharian Aku amati kerjaannya cuma berendam melulu.”

“Bener Yam, Aku sedang menikmati berendam saja.”

Ayam berjalan mundur beberapa langkah kebelakang. Lalu Ia ambil sikap ancang-ancang. Berlarilah Ia dan terbang ke punggung Kerbau. Sasaran mendarat Ayam meleset. Bukan ke punggung malah diatas kepala. Kerbau marah.

7 September 2010

Melawan Ideologi ?


"Aku menyatakan melawan dogmatisme, karena meskipun diriku tetap kukuh dan yakin terhadap apa yang aku mau, aku selalu meragukan apa yang aku tahu."—Errico Malatesta

Di saat fundamentalisme religius masih menjadi gerakan yang sangat kuat, ideologi tampaknya mengalami penurunan kekuatan sebagai motor dari gerakan revolusioner yang bersifat sekuler. Ada saat-saat yang cukup panjang di masa lalu ketika kelompok-kelompok seperti Partai Komunis mampu memerintahkan jutaan pengikutnya di seluruh dunia. Haruskah para anarkis merayakan kemunduran ini, memposisikan diri kita di atas segala gelombang yang saling bertubrukan di dalam sejarah? Apakah ideologi itu sendiri adalah masalahnya? Namun apakah yang diartikan dengan melawan ideologi? Untuk mencapai dasar dari masalah ini, kita harus mengerti dengan tepat tentang apa yang kita maksud dengan ideologi itu sendiri.

Permasalahan ini telah diperkeruh oleh banyak marxis yang ada sebelum kita. Marx menegaskan bahwa ideologi ditentukan oleh siapa yang mengontrol proses produksi, dan hal itu berfungsi untuk membutakan proletariat terhadap eksploitasi yang mereka alami. Namun bukankah ideologi Marxisme itu sendiri juga telah membutakan jutaan orang? Dan bagaimana mungkin asumsi akan produksi yang didasarkan pada relasi kelas seperti yang telah dikemukakan oleh teori Marx cukup untuk menjelaskan perkembangan dari berbagai hal yang terjadi selama abad ke 20? Jika beberapa pengikut Marx telah berusaha untuk mengembangkan analisisnya agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi dunia yang nyatanya tidak pernah tepat seperti prediksi Marx, kita seharusnya curiga terhadap mereka, seperti kita juga harus curiga terhadap semua ideolog.

10 Agustus 2010

Marsinah : Sosok Kartini Revolusioner

Marsinah : Sosok Kartini Revolusioner 
Setelah Banyak Orang Sangsi, Apa Hebatnya Kartini

Oleh : Jajang Hanuar Habib, SE.

Kartini adalah perempuan yang dirisaukan budaya. Buah bimbang berpikir, dia korespondensikan via surat kepada relasi Belandanya, J.H. Abendanon. Dalam keterbatasan pengetahuan, Kartini muda yang mengalami friksi dirinya yang Jawa, Islam, dan hidup di negeri terjajah terhadap kehidupan modern Barat.

Belakangan kesimpulan guru besar UI, Prof. Harsja W. Bachtiar, Kartini waktu itu diincar Belanda untuk menyusupkan pemikiran pro Barat melalui sinkretisme budaya demi kepentingan penjajahan. Kepentingan penjajahan itu dilaksanakan Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, dengan direkturnya J.H. Abendanon sendiri.

Abendanon bekerja dengan support data dari Snouck Hurgronje, sekaligus penasihatnya. Sebagai mata-mata, Snouck Hurgronje menyamar menjadi muslim dengan nama Abdul Ghaffar (1885) untuk dapat memetakan perkembangan kehidupan sosial masyarakat yang sedang dijajah. Sama halnya seperti yang pernah dilakukan orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menyamar menjadi murid Syaikh al-Azhar Kairo.

Kartini mungkin tidak sempat tahu, surat-suratnya kepada Abendanon kemudian dipublikasikan oleh Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Lich pada 1911. Publikasi surat-suratnya kemudian dijadikan legitimasi untuk melancarkan politik etis. Upaya Belanda mengiba dana dengan nama Kartini dan suratnya berhasil juga, hanya berselang dua tahuan didirikanlah Komite Kartini Fonds.
Hingga sekarang, keluguan Kartini dalam sejarah masih belum juga diluruskan. Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah mengatakan: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut”.

Adalah simbol, atribut yang dilekatkan pada sebuah identitas. Di alam kontemporer ini, perempuan Indonesia masih dibelenggu dengan kebimbangannya. Seperti Kartini yang dikurung dalam friksi pikirannya, dari Jawanya yang Islam digerus hegemoni Barat. Panjang usia lah apa yang diinginkan Penjajah masa itu pada Kartini…

Hampir satu abad Kartini, di usia 24, ada perempuan yang hanya berselisih lebih muda satu tahun pada 1993 dengan Kartini usia 25 pada 1904 saat pulang ke haribaan. Perempuan itu Marsinah.

Emansipasi yang diinginkan priyayi Kartini, pada generasi cucunya ini, kini tak hanya dilayangkan dengan surat mesra. Tanpa bimbang dengan friksi di kepala, Marsinah menuntut dengan lantang dalam barisan aksi. Tentang hidup yang kian mahal, tentang Marsinah yang buruh, yang masih juga dianggap alat produksi dibayar sekedarnya.

Hingga pada 9 Mei 1993, 200 kilometer dari tempat Marsinah kerja, dia dibungkam diam oleh kematian di sebuah gubuk. Dia ditusuk dengan benda runcing, luka perutnya sedalam 20 sentimeter. Dagunya memar, lengan dan pahanya lecet. Selaput daranya, robek. Belum lagi tulang kelamin bagian depannya hancur.

Kiprah dan golak perlawanan emansipasi Marsinah, adalah tingkat lanjut emansipasi yang dicurhatkan Kartini pada Abendanon. Kita akan merenung jika kita ingat Rossa Luxemburg, buruh Jerman yang kepalanya ditusuk bayonet hingga mati. Dengan berat, “Jika saat ini, nyawaku mendahului pergi, aku tak sanggup lagi berkata-kata sebagai ungkapan perpisahan, dan hanya bisa menerawang dengan tatap kosong keputusasaan”.

Bagi Marsinah, perjuangannya justru tidak kenal putus asa. “Buruh belum mendapatkan keadilan sejati dari pemerintah. Buruh harus menyatukan kekuatannya. buruh harus bersatu, buang kepentingan individu, dan kedepankan kepentingan buruh dan rakyat”. Kita hari ini, pasti akan menginsyafi sosok revolusioner Marsinah, bukan emansipasi melainkan perempuan tetap lantang, perempuan harusnya bergerak.

Bagi kita, Sosok perempuan Indonesia ada pada epik Marsinah yang dilupakan.