25 Agustus 2010

Si Pandir: Balada Fanatisme Agama

Oleh : Yahya Zakaria

Si pandir, begitulah namanya, Ia seorang kyai bersahaja di desa bernama sukacita. Dengan usia yang masih tergolong muda, Si pandir taat sekali menjalankan ajaran agama, tak pelak, hampir seluruh warga desa menaruh kepercayaan padanya. Setiap kali Si pandir memberikan ceramah,warga desa berduyun-duyun melangkah tanpa ragu untuk mendengarkannya, suara lembut serta tutur yang santun menjadi ciri khasnya.

Rumahnya sederhana, tak ada yang istimewa. Hingga hari ini, Si pandir belum berkeluarga, Ia sebatang kara, hanya sepasang indera yang menjadi harta paling berharga baginya di dunia, selain itu, Kitab suci dan sehelai baju koko andalannya, menjadi harta berharga nomor 2. Ia selalu berjalan, tanpa kendaraan, kemanapun pergi, kaki selalu menemani. Senyum Si pandir tak kenal henti, Ia memberikan tulusnya senyuman pada setiap warga yang kebetulan berpapasan ataupun sedang berada di jalan.


Si pandir, sosok muda yang beda di desa sukacita, belasan wanita jatuh cinta padanya, bahkan hingga tergila-gila, tapi Si Pandir, tak sedikit pun tergoda, Ia melenggang saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Dzikir tak pernah lepas dari mulutnya, bahkan Ia juga sudah tak mampu lagi menghitung berapa banyak dzikir yang keluar dari mulutnya. Si pandir selalu saja ingat Tuhannya dalam kondisi sedih maupun bahagia.


Hingga suatu ketika, Si Pandir tergoda, maklum Si pandir juga manusia, sudah fitrahnya memiliki dosa serta lupa. Seorang hawa menaklukan pandangan serta pikirannya, Rana namanya, Ia adalah anak kepala desa Sukacita, yang menuntut ilmu di Jakarta dan baru kembali ke desa. Rana dengan kepribadian luar biasa, cerdas, supel, tak banyak bicara, mampu membuat Si pandir terkulai tak berdaya. Sudah ratusan cara Ia coba, tetap tak bisa, godaan Rana kerap memabukan, candu, membuat lupa akan segala. Ia bagai obat bius yang milyaran harganya.

Si pandir terus berusaha, tak mau kehabisan cara agar jauh dari godaan Rana. Ia pernah berpikir untuk meninggalkan desa, tapi niat itu cepat-cepat diurungkannya, karena terlanjur jatuh cinta pada warga desa. Ia juga pernah berpikir untuk mengurung diri di rumah agar terhindar dari godaan, tapi tak kuasa dilakukan, terlalu membosankan. Hingga suatu malam terdapat setitik cahaya, Ia berkeyakinan untuk mengucapkan satu kalimat ketika Ia keluar rumah, satu kalimat yang diulang layaknya dzikir, karena Si pandir kini berpikir bahwa dzikir tidak lagi ampuh menolak godaan dari Rana, Ia menetapkan kalimat, "...Ya Tuhan, lindungilah hamba dari godaan Rana..." sebagai pengganti dzikir.

Si pandir pada akhirnya berani untuk keluar rumah, meskipun Ia masih kerap tergoda ketika melihat Rana di rumahnya, Ia terus saja mengulang kalimat itu, lagi dan lagi, tak kenal henti. Waktu berlari, warga semakin banyak yang mendengar Si pandir mengucapkan kalimat itu ketika berada di jalan desa, warga sayup-sayup menangkap ucapan Si Pandir layaknya dzikir, tetapi setelah sekian lama, warga akhirnya yakin bahwa Si pandir bukan mengucapkan dzikir, Ia dinilai telah merubah dzikir.

Warga berkumpul tepat di beranda rumah Si pandir, mereka berteriak "...keluar kau Pandir!...", warga kalap karena menilai Si pandir telah murtad, telah menyelewengkan dzikir dan itu merupakan penghinaan terhadap ajaran agama. Muka warga padam, gelap, mereka geram. Si pandir dengan gugup membuka pintu, Ia melihat tatapan warga, melihat senjata yang mereka bawa. Si pandir diam, hanya memanjatkan doa pada yang Kuasa. Belum sempat Si pandir berbicara, teriakan seorang warga meledakan emosi massa "...bakar orang-orang murtad, penganut aliran sesat!..."

Abu. Hening, tanpa geming. Air mata. Si pandir berpulang pada-Nya.

*untuk konflik agama yang terjadi pada bangsa ini, untuk fanatisme yang buta, untuk para pemuka agama, untuk sahabat saya yang selalu percaya bahwa agama tak sekedar dogma. salam.

8 komentar:

Ummiega mengatakan...

Fanatisme pada agama sangat perlu sekali, justru yang rancu adalah istilah fanatik yang beredar di kalangan masyarakat, bila ada seseorang yang taat menjalankan perintah agama, mereka katakan "jangan terlalu fanatik". Persepsi ini benar atau salah tapi ini yang ada di masyarakat. Bila seorang pemeluk Islam tidak fanatik pada ajarannya, apalah yang terjadi. Sebetulnya masalah adalah pada metode penyampaian. Ini yang saya tangkap dari realita.

Ladida mengatakan...

semoga besok2 akan mnjadi lebih baik . . ,

PLUR !!!
(peace love unity respect)

Maspri mengatakan...

Menurut saya kita beragama perlu akal dan ilmu. Dengan akal dan ilmu dunia tampak terang....

Pojok Cirebon mengatakan...

Agama pastinya mengajarkan kasih sayang. Jadi wujud fanatisme harus mewujud dalam fanatisme dlm melaksanakan ajaran kasih sayang kepada semua umat manusia ciptaan Allah.

Bintang mengatakan...

semoga gak ada lagi cerita seperti si pandir ini yang disebabkan Fanatisme agama

achmad taher mengatakan...

menurutku sih panatik agama itu perlu. Dalam alqur'an disitir agar kita fanatik "...Al-Islam Ya'lu walaa Yu'la Alaih", Innaddiina 'Indallahil Islam", dan banyak lagi perintah kita fanatik terhadap agama. Sedangkan selemah-lemah iman seorang muslim adalah ngegerundel dalam hati karena tdk senang agamanya dilecehkan.

lina@happy family mengatakan...

Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah ini...

lulu mengatakan...

cerita yang bagus banyak manfaat ynag kita ambil