21 Agustus 2010

Dinamika Kebangkitan China Sebagai Imperium Baru di era Global

Oleh: Wildanshah[1]

Banyak orang khawatir China akan terpecah. China memang pecah, dengan menjalani jalur kembar globalisas idan desentralisasi secara lebih intensif daripada Negara lain di dunia, sebuah proses yang esensial bagi keberlanjutan China, dengan memberi lebih banyak efesiensi dan kekuasaan kepada bagian-bagiannya-kota,Provinsi,dan kawasan.Pinggiran pusat... kini, semakin saya menoleh ke belakang, semakin sadar saya betapa China telah begitu berubah. Berkali-kali , dalam kunjungan saya setiap tiga atau empat tahun, saya terkejut dan terkagum - kagum. ( Jhon Naisbitt )[2]

Munculnya Persaingan Lokal yang Meng-Global

Hampir semua pembicaraan mengenai China berpusat pada keunggulan manufakturnya, Namun perubahan yang ada di lanksap perkotaan China cenderung tidak diperhatikan, kecuali jika langsung menyaksikan langsungkebangkitan kembali kota-kota besarnya. Pusat kota lama diruntuhkan dan jutaan orang berpindah tempat dalam berbagai proyek industri besar yang membentuk China abad ke 21.



China memiliki 166 kotadengan populasi lebih dari 1 juta. Ada banyak kota di Chinayang tidak dikenal orang namun memiliki populasi 6,7 atau 8 juta jiwa.Urbanisasi cepat Negara ini telah mengakat jutaan penduduk China keluar dari kemiskinan.[3] Hampir semua kota ini telah diubah menjadi zona konsturksi yang luas. Setiap kota kota ingin berkembang menjadi sebuah kota dunia. Pers barat hanya terfokus pada tiga kota besar China seperti Beijing, Guangzhou dan Shanghai tapi ternyata diseluruh China mulai bermunculan kota-kota besar yang mulai bangkit untuk mencapai kemakmuran ekonomi.

Harbin salah satu kota industri lama adalah salah satu renaisans urban ini diwilayah utara China. Harbin saat ini membangun sebuah pusat kota baru bagi 9 juta orang Songbei. Kota buatan Harbin ini menjadi sebuah kotaseluas 73.8000 hektare yang terdiri atas berbagai menara perkantoran,gedung-gedung pemungkiman,hotel bintang lima, taman industri dan zona perdagangan. Pusat kota ini mirip dengan New York City.

Najing juga sedang menciptakan sebuah kawasan seluas 9.500 hektar yang sebagai sebuah pusat kota baru. Dengan demikian kota-kota lain, termasuk Yangzhou,Ningbo, dan Nanchong. Zhengzhou sedang mengembangkan sebuah rencana induk untuk sebuah pusat kotaseluas 15.000 hektare. Changchun kini juga menggerakan distrik bisnisnya menjadi sebuah pusat kota baru. Pembangunan kota baru seperti menjadi persaingan sengit antara kota-kota kelas dua. Melalui globalisasi dan desentralisasi, mereka melepaskan diri dari kendali pemerintahan pusat di Beijing. Dalam hal ini, Jhon Naisbitt tepat dalam peryataanya ketika melihat fenomena yang terjadi pada China. Naisbitt menyatakan,"sementara barat mengalami persaingan yang sangat berat dengan China, persaingan di dalam China sendiri lebih sengit". Namun,kemajuan China saat ini tidak lepas dari pergantian kepemimpinan China yang mampu untuk merenovasi sistem pemerintahannya.

Berubahnya Sosialisme dan Munculnya Watak Kapitalisme China

Pada tahun 1957, Mao Tse-tung mengatakan, " Sistem sosialis pada akhirnya akhirnya akan menggantikan sistem kapitalis; inilah hukum objektifitas yang terlepas dari keinginan manusia. Tidak peduli seberapa besar upaya kaum revolusioner dalam menahan laju roda sejarah, cepat atau lambat revolusi akan terjadi dan pada akhirnya akan menang".[4]Dan hingga sekarang pengaruh Mao seorang pria yang berkuasa selama kurang lebih 25 tahun dan menguasasi negara China yang seluas lebih dari 1.448.322.400 masih sangat mengakar di hati masyarakat di China daratan hingga dia mati pada tahun 1976.

Kematian Mao menjadi sejarah awal perubahan, dimana China akhirnya di pimpin oleh Deng Xiaoping seorang agen perubahan besar bagi China.Tujuan Deng Xiaoping adalah menerapkan berbagai kebijakan ekonomi pasar, sebuah gelombang besar ekonomi. Selama 1980-an,Deng memulai dengan Zona ekonomi khusus di beberapa kota terpilih. Seperti shanghai yang duluterkenal sebagai tempat primitif menjadi kota supermodern dan salah satu yang terbesar di Asia. Deng, yang meninggal padatahun 1997 akan dikenal dalam sejarah sebagai orang yang membebaskan China dari belenggu Mao.

Kini tidak ada lagi komunis di China,dan evolusi China modern pada waktunya akan mengarah ke reformasi politik. Percayalah pada proses ini. Sektor swata saat ini menjadi komponen ekonomi China yang paling dinamis, dengan pertumbuhan sekitar 10% per tahun, dua kali lipat kecepatan pertumbuhan perekonomian China secara keseluruhan.[5]Ini sangat menggambarkan bahwa kelas pengusaha yang sangat berperan aktif dalam mendorong modernisasi di China.Dalam segala perubahan dan kemajuan China tidak lain dikarenakan peran pemerintah yang mampu membuat perusahaan-perusahaan China menjadi efesien dengan kecepatan yang tidak sampai menciptakan terlalu banyak pengangguran di suatu masa. Seperti apa yang disampaikan Jhon Naisbitt kepada Presiden Jiang pada tahun 1998 di China.

Kemampuan China untuk merubah haluan negaranya-lah yang mampu melihat peluang ekonomi di era global dimana diperlukan kemampuan membaca situasi dan peluang kerja sama dengan Negara-negara dunia untuk memperbesar kepentingan ekonomi China.

Kebangkitan China : Strategi Soft Power Negara China dalam Hubungan Luar negeri

Prospek ekonomi global pada saat ini relatif baik, walaupun telah terjadi krisis ekonomi dan financial yang mempengaruhi banyak negara, terutama negara berkembang. Namun yang menjadi kekhawatiran pertama adalah kemungkinan resesidi AS yang dengan sendirinya akan mempengaruhi proses pemulihan negara-negara yang "baru" keluar dari krisis dan dimana proses pemulihan masih cenderung labil.

Proses globalisasi akan terus mengalami percepatan, baik segi ekonomi dan informasi yang terus bergerak melintasi Negara dunia. Globalisasi dan integrasi ekonomi nasional dengan ekonomi dunia merupakan bentuk dari perubahan jaringan produksi global yang telah mengalami peningkatan diberbagai bagian dari proses produksi yang dapat beralokasi di Negara berbeda dengan biaya terendah. Namun, dalam risiko-risiko yang harus dihadapi oleh negara-negara berkembang di sekita rwilayah Asia Timur terhadap perekonomian global. China malah sebaliknya, Negara ini mendapatkan kemajuan disektor perekonomiannya ketika China mampu bertahan ditengah arus deras globalisasi dan menjadi The Rising Country di dunia Internasional saat ini .

China sangnaga timur sejak tahun 1990-an mulai bangkit dari tidurnya. Terlihat dari kemajuan-kemajuan ekonomi China yang mulai santer dilaporkan oleh berbagai media dalam negeri maupun luar negeri. Majalah-majalah internasional seperti Times atau Newsweek hampir selalu menyajikan artikel dan tulisan para ahli tentang Cina dalam setiap edisi mereka.Bahkan, berita tetang kemajuan China juga pernah meramaikan dijagat media di Indonesia. Berita yang beredar tersebut memperlihatkan kekuatan besar yang dimiliki oleh China terhadap percaturan dunia.Kemajuan kekuatan ekonomi Cina yang pesat dalam beberapa tahun terakhir mulai dirasakan oleh Negara-negara dunia pertama seperti halnya Amerika Serikat maupun Uni Eropa. Seperti yang dilihat, perekonomian China pada tahun 2009, pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 9,1 persen. Seperti apa yang di utarakan Jhon Nasibitt dalam bukunya Mindset "kini, semakin saya menoleh ke belakang, semakin sadar saya betapa China telah begitu berubah. Berkali-kali , dalam kunjungan saya setiap tiga atau empat tahun, saya terkejut dan terkagum-kagum".

Tonggak awal berkembangnya China dalam dunia internasional dapat dilihat setidaknya ketika dikeluarkannya kebijakan Open Door Policy yang membuat Cina mulai terbuka terhadap perdagangan internasional. Selain itu, Salah satu strategi Cina dalam menjalankan politik dan perekonomian luar negeri dengan China menggunakan strategi soft power. Dalam definisi Joseph Nye, soft power adalah "the ability of a political body, such as a state, to indirectlyinfluence the behavior or interest of other political bodies through culturalor ideological means." Dalam artikelnya yang berjudul The Velvet Hegemon (jurnalForeign Affair, 2003), Nye menyebutkan beberapa variabel yang bisa dikonversikan sebagai soft power sebuah negara. Variabel tersebut antara lain, daya tarik budaya (termasuk juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya), idealisme politik, kebijakan atau kemampuan suatu negara untuk memanipulasi agenda politik negara lain,kredibilitas, serta legitimasi.

Bergabungnya China dalam berbagai organisasi dunia adalah sebagai bentuk strategi soft power. Seperti keanggotaannya di World Trade Organization (WTO), Cina dapat menembus hampir semua pasar di seluruh dunia. Di ASEAN China juga membuka pasar dengan penduduk yang besar dengan sebuah kesepakatan Asean-ChinaFree Trade Agreement (ACFTA) yang melibatkan hubungan negara-negara Asean. Ekspansi China yang semakin besar ini mampu merambah sampai ke Afrika dengan didirikannya Forumon China-Afrika Cooperation (FOCAC) yang menjadi forum resmi antara Republik Rakyat Cina dengan negara-negara di Afrika yang akhirnya menjadi ladang minyak buat China. Semua kemajuan Negara China tidak lepas dari perubahan pola pikir pertumbuhan haluan negara yang dilakukan oleh pemerintahan China dan kekuatan militernya yang ditopang segi ekonomi menjadi semakin memperkuat posisi China dimana dunia dengan menciptakan balancing power[6]dalam percaturan global.

Ekonomi Global menjadi jantung Militer China

China mulai menyatukan sumber ekonomi dengan kekuatan militer dan peran politisnya pada akhir tahun 1980. Jika pertumbuhan pertumbuhan ekonominya terus berlanjut, proses konversi ini akan memberikan kemajuan yang sangat penting.Selama tahun1980, mileter China mengalami kemunduran. Namun antara 1988 sampai dengan 1993, pengeluaran biaya militer China mengalami kenaikan dua kali lipat dan naik sekitar 50% dalam anggaran biaya rill. Pada tahun 1995 diperkirakan mengalami kenaikan sebesar21%. Selama tahun 1993, pengeluaran biaya militer China kira-kira berkisar antara 22 miliar A.S. hingga 37 miliar dolar A.S. dari nilai tukar rata-rata dalam negeri dan mencapai 90 miliar dolar A.S jika dibandingkan dengan harga pasar komoditi hasil pertanian dan kotorannya. Pada tahun 1980-an, China melakukan penyusunan kembali strategi militernya, bergerak dari pertahanan terhadap invansi memlalui sebuah perang besar dengan Uni soviet menuju suatu strategi regional yang menekankan pada proyeksi kekuatan. Dalam kaitannya dengan pergeseran ini, China mulai mengembangkan kemampuan armada lautnya, pesawat tempur jarak jauh,mengembangkan kemampuan pesawat pengisian bahan bakar, memutuskan untuk memiliki pesawat pengebom dan melakukan melakukan modernisasi. China juga menjalin sebuah kerja sama militer yang saling menguntungkan dengan Rusia.[7]

Di era sekarang dalam skenario besar China beberapa tahun terakhir, tujuan besar Negar itirai bambu adalah untuk menembus semua pasar dunia agar mendapatkan keuntungan ekonomi demi menggerakkan roda perekonomian dan jaminan atas national security yang terkait dengan kebutuhan keamanan, bahan mentah, transfer teknologi, dan energi. Terlihat pada tahun 2009, pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 9,1 persen dengan anggaran militer fantastis sejumlah 771 triliunrupiah. Untuk tetap mendorong perekonomian dan membangun militernya, China yang memang membutuhkan banyak minyak.

Untuk kebutuhan minyak itu China telah menjalin hubungan dengan Timur Tengah. Pada tahun 2004, kebutuhan minyak China mencapai kira-kira 100 juta ton, dan 32% diantaranya dipasok dari Timur Tengah. Sedangkan pada tahun 2009,kebutuhan akan minyak meningkat menjadi kira-kira 150 juta ton dan 58% diantaranya dipasok dari Timur Tengah. Timur Tengah memang menjadi tujuan utama China dalam hal kebutuhan minyak.

Namun seiring bertambahnya kebutuhan ekonomi dan militer, Cina mulai mengembangkanekspansinya ke daratan Afrika. Meski Cina masih menggantungkan diri lebih banyak terhadap Timur Tengah, ekspansi Cina di daratan Afrika tidak bisa dianggap sebagai sebelah mata. Afrika menyimpan kebutuhan energi yang belum dieksplorasi secara maksimal, diantaranya karena faktor investasi dan teknologi.

Hubungan kerja sama ini tidak hanya masalah pemenuhan kebutuhan militer China akan minyak. Namun hal ini malah membuka peluang China untuk memperluas pasarnya di Afrika. China tidak hanya menjual barang industri ringan seperti tekstil dan sepatu, tetapi juga barang-barang yang lebih canggih seperti elektronik dan telepon seluler.Barang-barang yang dijual China ke Afrika ditujukan untuk low-income consumers sehingga kualitasnya lebih rendah dan harganya sangat murah. China juga memiliki pendekatan yang berbeda dari barat dalam pembangunan di Afrika. Barat lebih melakukan tekanan melalui model yang diajukan World Bank dan IMF yang dikenal dengan "Washington Consensus" dan China memiliki model sendiri yang dikenal dengan "Beijing Consensus". Dalam memberikan bantuan, pendekatan yang dilakukan juga berbeda. China tidak mempersoalkan negara tersebut memiliki good governance atau tidak. China lebih mementingkan sistem politik yang stabil sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjamin kebutuhan China akan barang mentah.

Instrumen-instrumenyang digunakan oleh Cina terhadap Afrika antara lain dengan menyediakan lebih banyak bantuan dan utang, mempromosikan perdagangan dan investasi,memberlakukan forgive debt, dan melakukan perdagangan bebas dengan Afrika sebagai tujuan utama.

Meskipun beberapa pihak terutama Barat menilai Cina terkesan "imperialis" dengan melakukan investasi besar-besaran dan membanjirnya produk China di Afrika, pemerintahan negara-negara Afrika justru membantah pernyataan tersebut. Hal itu karena strategi Cina berbeda dengan Eropa beberapa abad lalu. Selain memenuhi kebutuhan minyak, Cina juga menawarkan win-winsolution memberikan bantuan kepada penduduk lokal yang miskin. China memberikan bantuan, pengurangan atau penangguhan utang, kerja sama pengembangan sumber daya, dan membantu pembangunan infrastruktur negara-negara di Afrika. Melalui kerja sama pembangunan ini, China berusaha menanamkan pengaruhnya tanpa melakukan intervensi terhadap politik domestik negara-negara di Afrika. Dengan kejelian China terhadap target pasarnya membuat China mampu untuk terus mengembangkan sektor ekonomi dan terus memperkuat pertahanan negaranya. Selain itu, menjamurnya produk China yang mulai mendominasi persaingan pasar global tidak lepas dari kebijakan moneter yang di ambil China.

Lesunya Fleksibilitas Yuan Mundurnya Agresifitas Industri ekspor China

Kebijakan moneter China yang mematok nilai tukar Yuan terhadap Dolar Amerika Serikat adalah kunci dari keberhasilan China dalam mendongkrak perekonomiannya. Kebijakan Moneter yang dilakukan China menjadikan mata uang Yuan menjadi undervalued (dinilai rendah terhadap mata uang asing). Pematokan nilai mata uang ini dimaksudkan untuk mendorong daya saing ekspor China di pertarungan ekonomi global.

China sebagai negara yang memiliki industrinya kuat memang sangat berkepentingan dengan nilai tukar mata uang yang rendah. Dengan demikian, China dapat mengekspor produk industrinya dengan biaya murah. Bahkan dampak dari kebijakan moneter ini mampu membuat harga menjadi jauh lebih murah jika dibandingkan dengan hasil produksi dalam negeri negara importir. Dengan cara ini, cadangan devisa China menjadi kuat dan dengan kuatnya cadangan devisa maka nilai tukar mata uangnya cenderung menjadi lebih stabil.

China menerapkan rezim nilai tukar mengambang terbatas mulai pertengahan 2005 dan dibekukan pada Juli 2008 pada posisi 6,83 Yuan per dolar AS. Yuan hanyadiperbolehkan bergerak pada kisaran 0,5 persen dari patokan tersebut. Kebijakan itu diambil untuk meningkatkan ekspor, dan melindungi importir Cina selama krisis global. Namun, kebijakan itu telah memperlemah daya saing produk Indonesia.Sebab, jika rupiah menguat terhadap Dolar, maka eksportir akan merugi. Jika eksportir merugi, tentu produk yang diekspor dari Indonesia bisa berkurang. (Tempo,22 Juni 2010)

Kebijakan yang dikeluarkan China pun juga berdampak pada hubungan luar negerinya. China mengalami tekanan dari dunia agar mau mengambangkan nilai mata uangnya yang dinilai dipatok terlalu rendah.Pematokan nilai Yuan yang sudah dilakukan semenjak tahun 1994 ini diprotes karena dianggap sebagai penyebab utama miringnya harga produk-produk Cina dipasaran dunia (Sarnianto, 2004). Kekhawatiran Negara lain memang beralasan karena produk-produk buatan China memang mulai masuk dan mendominasi pasar dunia, mulai dari sekedar mainan sampai perangkat elektronik.

Setelah mendapat desakan dari dunia Internasional, Pemerintah China akhirnya menerapkan pelepasan Yuan yang dilakukan mulai 19 Juni 2010. China akan kembali ke kebijakan moneter lamanya yang ditinggalkannya sejak 2008 sebagai bagian dari penanganan krisis. Lalu diikuti People's Bank of China, Bank Sentral China, yang menetapkan tingkat paritas tengah nilai tukar atau titik tengah batas perdagangan mata uang yang diperbolehkan pada 6,8275 Yuan per dolar AmerikaSerikat (Kompas, 23 Juni 2010).

Menguatnya nilai mata uang China ini sedikit banyak mulai mempengaruhi pola ekonomi industri eksport yang dilakukan China.Padahal, sebelum adanya tekanan yang dilakukan dunia internasional. China mampu mengeser tatanan ekonomi dalam 10 tahun terakhir ekspor di beberapa negara ke China selalu jauh lebih kecil dari pada impor dari China. Kebijakan moneter yang dilakukan China memicu ketidak seimbangan neraca perdagangan, antara lain terjadi di Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara Eropa. Hal ini telah menciptakan defisit fiskal di negara-negara tersebut. Dengan demikian, Jika apresiasi Yuan memang berlangsung, berarti "subsidi" pemerintah Chin ayang selama ini diberlakukan melalui kebijakan moneternya akan berakhir. Lambat laun produk-produk Chin ayang selama ini terkenal murah meriah perlahan-lahan akan terkikis dan kemungkinan dominasi pasar yang dilakukan China akan mulai sedikit demi sedikit diambil ahli oleh negara-negara lain.

Footnote

[1]Mahasiswa program studi IlmuPolitik. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Jedral SoedirmanPurwokerto dan menjabat sebagai Menteri Sosial-politik BEM FISIP UniversitasJedral Soedirman.
[2]Seorang futuris paling termuka diera modern dan dijuluki filsuf global, penulis buku MEGATRENDS, MEGATRENDS 2000dan Mindset.
[3]Jumlah populasi di kota-kota china berasal dari "New Boom Towns Change Path ofChina Growth,"New York Time, 28 juli 2004
[4]Kutipan Mao Tse-tung dari pidatonyapada 6 November 1957 di Meeting of Supremen Soviet of USSR in Celebration of the 40thAnnniversary of Great October Socialist Revolusion.
[5]Lihat. Jhon Naisbitt. Mindset. 2007.Daras, Jakarta.hlm 234-235
[6]Dalam balancing power, setiap Negara dapat memainkan peran utama ataupunsekunder. Pertama, Negara A dapatmengimbangi kekuatan Negara B, yang dipandang sebagai musuh yangberbahaya,dengan melakukan aliansi dengan Negara C dan D, dengan caramengembangkan kekuatan militernya sendiri serta kekuatan-kekuatan yang lainatau melalui beberapa kombinasi dari cara-cara ini. Dalam situasi seperti ini,Negara-negara A dan B merupakan kekuatan-kekuatan penyeimbang utama antara yangsatu dengan yang lain. Kedua,Negara Amungkin akan menganggap beberapa Negara lain sebagai musuh dekat,tapi iamempunyai kepentingan dalam mempropagandakan sebuah balance power antara NegaraB dan C yang terlalu kuat jika sampai menjadi ancaman bagi A. Dalam situasiini, Negara A berperan sebagai kekuatan sekunder dalam kaitannya dengan NegaraB dan C,yang masing-masing berperan sebagai kekuatan utama. Lihat, Samuel P.Huntington, "Benturan Antar Perdaban dan Masa Depan Politik Dunia".Qalam.Yogyakarta.2010. hlm 422-423
[7]Ibid. hlm 418

2 komentar:

Bunglon Blog Indonesia mengatakan...

hmmm china yang merupakan negara hebat dengan berbagai kemajuan teknologi lebih cenderung terkenal karena hasil produk²nya yang memang murah sehingga pada sebagian konsumen ini adalah sebuah keuntungan karena mampu menekan harga, ternyata china selalu penuh dengan nuansa
Sukses Slalu!

Love Expression mengatakan...

Apapun bentuk kemajuan yang ditunjukkan oleh China, setidaknya bisa menjadi pemacu bagi negara berkembang lainnya termasuk Indonesia untuk lebih berbenah diri.
Contoh yang baik untuk lebih tau pasar...