7 Agustus 2010

Mitos Listrik

Oleh : Yahya Zakaria

“anjrit, mati lampu lagi...”
“asu, PLN ora dadi kie lah...”

Putusnya aliran listrik atau yang kini kerap disebut mati lampu, seolah menjadi bencana bagi kita semua, berbagai umpatan dan cacian dari bibir kita selalu menyertai pemutusan aliran listrik, jejaring sosial pun tak kalah ramai, status facebook secepat kilat menjadi seragam ketika adanya pemutusan aliran listrik; mengumpat, mengeluh hingga menghujat instansi negara bernama PLN. Tak berlebihan memang jika pemutusan aliran listrik kini menjadi musuh besar masyarakat, karena listrik terlanjur menjadi penopang utama dari sektor industri, jasa bahkan institusi pendidikan.

Ketergantungan akan listrik memang tak pandang usia, seluruh golongan masyarakat selalu takut akan kegelapan, takut akan ketiadaan cahaya. Sejak usia dini, tak satupun individu luput dari sosialisasi penggunaan listrik dari sistem sosial masyarakat modern, baik keluarga, lingkungan bermain, hingga sekolah. Sehingga, wajar saja jika individu di tengah masyarakat modern menjadi gagap tanpa listrik.

Mungkin para penggagas dan penemu teknologi bernama listrik dahulu kala tidak bertujuan menjadikan listrik sebagai penopang utama kehidupan manusia, tetapi untuk mempermudah kehidupan, serta menjadikan aktivitas manusia mampu berjalan lebih panjang, karena pekatnya malam telah mampu ditaklukan.
***

Hari ini tanggal 2 Agustus 2010, harian Pikiran Rakyat dalam rubrik Selisik (hal: 30) melansir berita mengenai kampung adat di Jawa Barat, salah satunya mengenai Kampung Adat yang terkenal; Kampung Naga. Terdapat keunikan nilai di kampung tersebut, karena listrik hingga kini dilarang keras digunakan oleh penduduk kampung tersebut, “...listrik merupakan sumber kehancuran adat...” ucap salah satu pemangku adat Kampung Naga. Lebih lanjut, “...listrik berpotensi membuat warga kami pamewah-mewah...” (listrik berpotensi membuat warga kami saling bersaing dalam kemewahan), Pemangku Adat menambahkan. Itulah filosofi hidup masyarakat di Kampung Naga yang memandang teknologi sebagai penyebab utama kehancuran masyarakat, selain itu, masyarakat Kampung Naga dengan cermat melihat bahwa listrik merupakan jalan masuk satu-satunya (infrastruktur primer) dari teknologi yang digunakan oleh masyarakat modern, karena tanpa listrik, teknologi masyarakat modern tidak akan mampu berkembang.

Tidak sedikit memang nilai-nilai yang mampu kita pelajari dari masyarakat Kampung Naga, bahkan jika kita bandingkan dengan pemikir Teori Kritis mahzab Frankfurt, nilai yang ditawarkan tidaklah jauh berbeda, dimana para pemikir generasi pertama Teori Kritis; Adorno dan Horkheimer melihat teknologi sebagai herrschaft (penindasan atau dominasi total) dalam masyarakat modern, sehingga individu dalam masyarakat modern tidak akan mampu mengelak dari cengkraman teknologi, teknologi layaknya rezim fasis-totalitarian yang tidak memberikan celah sedikitpun pada individu yang kritis.

Lebih lanjut, dalam pandangan Masyarakat Kampung Naga, Listrik bukan hanya menjadi penyebab utama berkembangnya teknologi masyarakat modern, tetapi juga menjadi tonggak awal persaingan kemewahandi masyarakat, karena seperti yang diungkapkan pemikir teori kritis generasi pertama, teknologi merupakan sebuah dominasi total, dimana individu tidak akan mampu mengelak, sekali terjerat arus teknologi, maka konsumsi akan hal-hal yang baru menjadi tidak terelakan. Masyarakat modern dengan teknologinya kini memang identik dengan konsumsi, saya berbelanja, maka saya ada, karena teknologi modern selalu mengagungkan kebaruan-kebaruan dan menjadikannya seolah-olah kebutuhan primer manusia. Masyarakat Kampung Naga dengan kearifannya memilih untuk memboikot infrastruktur primer teknologi masyarakat modern; listrik, demi menjauhkan diri dari keabu-abuan, menjauhkan diri dari konsumsi berlebih, menjauhkan diri dari “kacaunya kebutuhan manusia”, dalam bahasa Superman Is Dead adalah anarki.

Listrik memang tak hanya sekedar listrik, Ia sangat kompleks dan mampu merubah manusia tanpa sadar sama sekali. Bahkan Kini listrik telah menjadi mitos, karena listrik kehilangan maknanya, telah dicuri maknanya, listrik bukan lagi sekedar pelengkap kebutuhan manusia, tetapi telah (terlanjur) menjadi kebutuhan dasar manusia modern, menjadi tonggak awal berdirinya masyarakat konsumsi dan menjadi kekuasaan.

*) Penulis adalah mahasiswa jurusan ilmu politik Universitas Jenderal Soedirman

2 komentar:

Bonthain mengatakan...

maaf lama br nongol kawan,d'malam yg ceria ini mg aktifitas ttp lancar...

link uda dipasang...mampir yach...follow me

Ambae.exe mengatakan...

mampir...skalian pasang link...linknya check in "Best Frenz"

ttp semangat selama Ramadhan...met puasa bt sobat Blogger yg menunaikanx